Aku Marah Kagum Padamu
Sebelum kau masuk ke liang bumi dan sebelum kau menaiki tangga ke langit lalu terpisah dari hidupku, selalu tak habis aku bertanya hingga liurku mengering dalam kepala: Mengapa begitu banyak simpanan ilmumu? Mengapa kau sibuk mengenal cinta Tuhanmu? Mengapa begitu dalam ujar-ujar yang tertulis dari penamu? dan Mengapa bisa kau mencapai hikmah itu? Seberapa luas pekerti pun budimu? Dan seberapa besar limpahan cintaNYA kau dapat ? Tak bisa aku mengira-ira.
Bak bunga kesturi yang selalu menyebarkan semerbak wangi taman surga, maka semua mahluk yang kau jumpai selalu mengingat tulus dari binar matamu, setiap materi yang tersentuh jemarimu berani hidup kembali, setiap mata memuji senyum dari ikhlasmu. Mereka mengajakmu, menyayangimu dan bersaudara denganmu, hingga terbuai damai bersama tanda keberadaanNYA. Kulihat adanya lisanmu tak lain hanya membuat mahluk merasa berharga.
Kalau kau telah dapatkan semuanya lalu dari manakah kau tau karun itu bertahta? Sedang yang ingin kupikirkan hanya kelezatan perut dan mata. Sedangkan tau pun aku tidak. Dengar pun aku tak. Jelas pun aku tak berkehendak. Beraninya kau menjadi mulia tanpa aku?
Bukankah aku tau atas siapa dirimu? Kau adalah ara yang hidup dari tengah kampung perawan. Bukankah kau lahir dalam tumpukan jerami lapuk bersama-sama aku? Bukankah bagus rambut dan kulitku pantasnya lebih darimu? Tapi mengapa aku selalu tau bahwa kau hanya memberi, mengawali, membangun, memperbaiki, menghiasi, mensyukuri.
Aku marah dan kesal karena banyak kulihat tanda kebaikan dalam tindak tandukmu. Bagiku itulah dosa-dosamu yang tak terampuni. Maka bukan aku kalau tak mengembalikanmu ke tengah kampung perawan dalam tumpukan jerami lapuk seperti asalku. Aku akan selalu ada untuk membuatmu bersedih dan menitikkan air mata hingga jatuh kebaikanmu dan layaklah kebodohan itu padamu. Itulah satu-satunya ungkapan penghormatan atas kekagumanku kepadamu.
Aku hanya mau engkau terduduk, terpuruk di tanah atau menjadi seperti seekor kelinci yang telah mati saja. Hingga kau tau bahwa yang duduk di atas tanah tak pernah terjatuh dan manusia seperti aku tak akan pernah menendang bangkai yang telah mati.
Aku hanya ingin kau mengerti sesak dadaku karena kagum padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar