pada 10 November 2009 jam 18:58
Cukup sudah setelah ini mau apalagi
Bagaimana aku bisa lari dari cercaan dan cacian
sedangkan aku manusia biasa yang belajar bersama Tuhanku
Pedas dan pahit mengulit
Akan aku kubur dalam-dalam dengan mengatakan hanya yang diperintahkan Tuhaku padaku;
”Matilah kamu karena kemarahanmu itu.”
Aku laksana cadas yang harus berdiri meski butiran salju dingin menyelimuti
dan deburan ombak menghempasku.
Akan kuacuhkan sengatan lidahmu meski aku sanggup berlari menerjang gunung
Aku akan bangun meski kau jatuhkan aku dari langit terpuji ke bumi berbatu
Agar langit terpuji datang lagi menjemput hatiku
Agar bumi mulia menutup kembali liang kuburku
lalu menggantikan tangga indah untuk kunaiki.
Aku hanyalah potongan-potongan daging yang memenuhi mulut saudaraku
karena aku tetap mahluk hina yang sedang memperbaiki keabadian nanti.
Aku telah lama menjadi bangkai karena saudaraku mengikuti aibku
Aku ini bangkai maka mustahil mengangankan kemuliaan
Aku menjadi bangkai setelah penjagaan dan perisai saudaraku runtuh
Aku menjadi bangkai karena saudaraku menutupkan aibku untukku dan memeliharanya dariku
Aku menjadi bangkai karena saudaraku memuji-mujiku dihadapanku
dan membukakan aibku ketika ku tak ada
Berbahagialah orang-orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri dan tidak sempat melihat aib orang lain (Imam Ali a.s).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar